Jakarta Bekasi Fishing Community Bangun Kekeluargaan dan Siap Kembangkan Diri

0
82

 

Jakarta Bekasi Fishing Community Bangun Kekeluargaan dan Siap Kembangkan Diri

 

Jakarta Utara, DKI Jakarta –

 

Menyusuri pinggiran kota Jakarta beberapa waktu yang lalu Minggu (14/10/2021) tepatnya di Tanah Si Pitung Pendekar Betawi, Marunda, Jakarta Utara kami menemui Pengurus JBFC (Jakarta Bekasi Fishing Community).

Di antaranya Triyanto sebagai Ketua, Aris sebagai Wakil Ketua, Yosef sebagai Sekretaris JBFC.

Mereka kali ini bersama 26 anggota memancing di empang yang dikelola Timin.

Timin sudah berusia 62 tahun. Ia dipercaya pemilik empang (bos) untuk mengurus mukai dari menyebar bibit sampai pada menjual ikan yang biasa sudah berusia 6 bulan.

Saat itu gelar acara mancing yang dilakoni JBFC (Jakarta Bekasi Fishing Community) adalah salah satu komunitas pemancing ikan yang masih eksis berjalan 3 tahun, karena Ketuanya yang bernama Triyanto menerapkan kejujuran dan keterbukaan kepada anggota, maka layaklah jika ia terus dipercaya memegang roda organisasi yang siap ia kembangkan sampai tingkat nasional dan memiliki UMKMnya juga.

Timin senang bekerjasama denga Triyanto. Karena dengan kehadiran JBFC ia tidak perlu repot-repot lagi memasarkan hasil ikan Bandengnya yang siap dipanen, diborong 5 juta oleh JBFC.

Hanya saja Timin sepakat minimal rerata 10 ekor tangkapan diterima oleh para anggota JBFC.

Yang menarik ketika hasil tangkapan tidak sesuai diperkenankan salah satu anggota untuk menjala ikan Bandeng.

Aris atau biasa disapa di FB sebagai Aris Sadewa adalah Wakil Ketuq di JBFC, ketika ditemui dalam kesempatan itu mengungkapkan, “Hobi memancing ikan nagi saya sudah berlangsung sejak usia SD, ikut dengan ayahnya yang hobi memancing dan memancing di kali tidak perlu bayar,” ungkapnya bernostalgia.

Aris melanjutkan, “Sekarang alam liar sudah jarang ditemui dan kalau memancing ya harus berbayar,” ucap Aris.

Bagi Aris memancing ikan Bandeng mempunyai keunikan tersendiri. Ada sensasi saat memancing ikan Bandeng dan asyiknya karena Bandeng mudah dipancing, tarikan ikan Bandeng kuat dan bagi para pemula ia sarankan untuk memancing ikan Bandeng.

Aris yang piawai memancing paling sedikit rata-rata 10 ekor dia dapat. Pernah suatu saat ia mendapat 100 ekor kalau dirupiahkan setara Rp 750 ribu wow cukup fantastis, karena kalau misal memancing berbayar dengan Rp 200 ribu berarti untung Rp 550 ribu.

Pengurus lain yang hadir adalah Yosef. Ia selaku Sekretaris JBFC. Ia berbagi pengalaman bagaimana kalau mancing ikan Bandeng.

Yang pertama yang harus diperhatikan adalah umpan. Umpan yang dipakai adalah pelet dengan aneka esen. Ada esen melati, bolu, amis, kopi. Yosef sendiri memakai esen seruni.

Selain bahan umpan yang berikut adalah alat pancing. “Sebaiknya joran tidak terlalu lentur agar saat menarik ikan Bandeng enak sensasinya dan mengurangi resiko mocel (ikan lepas ketika di darat).

Dibutuhkan juga tempat joran atau biasa disebut cagak, terbuat dari selongsong besi untuk memasukan joran dan cagak ditancapkan ke tanah.

Bagi Yosef seru kalau mancing dengan ramai anggota. Apalagi jika ada yang memancing terjadi mocel. Maka riuh suara teriakan ledekan penuh canda tawa menghiasi wajah para pemancing mania.

Kini kita berkenalanan dengan anggota senior di JBFC, entah mengapa Arif disapa Beben. Mungkin karena ia adalah anak band dengan keyboard sebagai pegangannya.

Beben biasa mancing di laut, Pulau Pramuka dan Danar adalah targetnya.

Oleh sebab itu ketika ia diajak memancing di empang ia pun mengejek, “Mancing di akuarium saja kalau begitu,” ujarnya.

Ternyata api jauh dari panggang. Ejekannya tak beralasan karena ternyata lebih asyik, punya sensasi dan keunikan. Ternyata memancing di empang berbeda dengan memancing di laut.

Kalau memancing di laut cukup sediakan udang lemparkan dan selesai tinggal menunggu. Ternyata berbeda mancing bandeng di empang, beda mancing ikan Emas, memancing sesama ikan Bandeng saja berbeda. Sejak saat itu justru kerap ia memancing di empang.

“Memancing di empang lebih menantang dibutuhkan kesabaran dan juga berpikir. Mengapa berpikir? Karena jika tidak dapat ikan di pagi hari sementara di kiri kanan sudah dapat mala di situlah kita berpikir mungkin ganti umpan atau pindah lokasi,” ujarnya penuh semangat.

Di sela-sela memancingnya Triyanto tidak lupa akan sholatnya. Suatu teladan yang patut kita tiru.

“Hari ini hanya 26 orang yang memancing dari hampir 100 anggota JBFC. Rata-rata karena berbagai keperluan dan juga keuangan,” ujar Sang Ketua JBFC.

Ketika ditanya mau dibawa ke mana JBFC? Ternyata Tri begitu antusias, ia punya kerinduan kalau.JBFC bisa menjadi JBFC Indonesia artinya sudah menjadi ranah nasional.

Bukan saja itu tetapi ada UMKM yang dikembangkan. Oleh sebab itu Triyanyo dalam waktu dekat akan melakukan kopi darat menjajaki kemungkinan pengembangan JBFC lebih maju lagi.

Ada segurat senyuman dan harapan di wajahnya yang murah senyum itu maka tak heran JBFC bisa bertahan hingga kini. Kekeluargaan yang mereka tanamkan bersama terasa di komunitas mancing itu. Dan kesejahteraan anggota juga menjadi target Tri. Terlebih lagi jika kiprah mereka dapat bermanfaat bagi negeri. Semoga!

(Reporter: Johan Sopaheluwakan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here