PDT. WEINATA SAIRIN: TUHAN MENJAGA DAN MEMBERKATI UMATNYA

0
437

 

 

“Dominus providebit. Allah akan menjaganya”

 

Salah satu ciri yang menonjol dari manusia adalah kesadaran diri bahwa ia adalah makhluk fana, terbatas, berlumur noda dan dosa, sebab itu seringkali berbuat salah dan terjadi nyaris berulang-ulang. Kesadaran seperti itu biasanya lahir pada momen-momen tertentu, utamanya tatkala manusia merayakan hari-hari besar keagamaan. Memang tatkala kesadaran religius hadir menggejolak di kedalaman nurani, seiring dengan itu perasaan “vertikal-transendental” menyinggahi kedirian manusia. Kesadaran seperti itu acap juga hadir tatkala sosok manusia itu bergulat dengan penyakit yang mendera, atau bahkan ketika ia terkapar dipinggir-pinggir kehidupan dengan harapan dan nafas yang terengah-engah.

 

Manusia memang tak bisa melawan hakikat dirinya sebagai makhluk fana. Mestinya kesadaran kefanaan itu melekat terus, inheren dan integral dengan kedirian manusia. Dengan realitas itu maka manusia hidup dengan lebih baik, berada dalam kontrol ajaran agama dan pada gilirannya akan menolong setiap orang untuk menghidupi kehidupan ini dengan lebih bertanggungjawab.

 

Harus diakui bahwa tidak gampang bagi seseorang untuk tiba pada penyadaran diri sebab dalam kondisi-kondisi tertentu manusia bisa hidup dengan sangat arogan dan melupakan sama sekali dimensi kefanaannya. Orang yang sedang berada “dipuncak” dan penuh dengan “kuasa” tentu sulit untuk bicara tentang kefanaan dan keterbatasan.

 

Seseorang harus memiliki jiwa besar untuk dalam kapasitas apapun menyadari kefanaan dan keterbatasannya. Ada kisah tentang jiwa besar dari zaman baheula yang cukup bagus untuk dijadikan inspirasi. Pierre Monteux seorang pimpinan orkestra dan istrinya pada suatu malam mencari penginapan. Mereka mendatangi sebuah penginapan dan di dekat kantor penginapan itu seorang perempuan berdiri di depan pintu dan berbicara dengan kasar. “Maaf aku tidak punya apa-apa!”. Waktu gadis tadi yang berdiri di depan pintu berbisik kepadanya ekspresi wajah perempuan itu berubah. Ia lalu berkata : “Maafkan aku Tuan. Aku tidak tahu bahwa anda adalah seseorang”. Anda boleh menyewa penginapanku. Wajah Monteux berubah menjadi serius. Ia membungkuk dengan formal kepada perempuan itu dan berkata : Nyonya semua orang adalah “seseorang”. Selamat tinggal.

 

Kebesaran jiwa bisa memaklumi apa yang terjadi dan bahkan bisa memaafkan seseorang yang bertindak tidak baik terhadap kita. Descartes pernah ditanya mengapa ia tidak membalas orang yang telah menyakiti hatinya. Descartes menjawab :” Ketika seseorang menyakitiku kunaikkan semangatku ketempat yang lebih tinggi agar serangan yang menyakitkan semacam itu tidak bisa menyentuhku!”

 

Sebagai makhluk fana ciptaan Allah kita harus selalu berada dalam komunikasi yang intensif bersama Allah. Kita harus transparan, jujur dan bergantung kepada Allah. Firman Allah yang dimuat dalam Kitab Suci harus dilantunkan terus dan di artikulasikan konsisten dalam praksis kehidupan. Dalam dunia yang penuh turbulensi kita terus berdoa agar Tuhan mendampingi hidup kita, menjaga dan memelihara kehidupan kita.

 

Bersama dengan Saudara-saudara kita kaum Muslimin kita bersyukur atas hari kemenangan yang telah diraih dan mewujudnyata pada perayaan Hari Idul Fitri 1439 H. Kita ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada Saudara-saudara kita yang merayakannya. Kiranya melalui hari raya keagamaan, kita semua mengalami pencerahan dan pencerdasan spiritual demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di masa depan. Tuhan akan menjaga kehidupan kita, Tuhan menjaga bangsa dan negara kita. Tuhan memberkati NKRI yang majemuk.

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here