PDT. WEINATA SAIRIN: *MELAYANI TUHAN DENGAN KOMITMEN*

0
692

 

 

 

_”Tetapi mereka diam,  sebab ditengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar diantara mereka”_ (Markus 9:34)

 

Posisi “terbesar” dibidang apapun selalu memiliki makna yang amat penting. Baik dalam ruang lingkup keluarga maupun dalam organisasi, *yang terbesar*, atau yang acap disebut _mayoritas_ itu menjadi sesuatu yang sangat signifikan maknanya. Yang besar itu biasanya memiliki pengaruh yang kuat yang menjadi referensi banyak orang. Yang besar, yang sulung tentu saja memperoleh warisan yang lebih baik dan banyak ketimbang dengan saudara-saudaranya yang lain.

 

Negara besar, kekuatan yang besar, dalam praktik selalu dalam posisi yang “mengintervensi” bahkan mengatur dan mendiskriminasi potensi yang dianggap kecil. Parpol besar, fraksi besar, koalisi yang besar merasa lebih “aman” dan lebih dekat kepada sukses ketimbang kekuatan-kekuatan lainnya.

 

Isu tentang siapa “yang terbesar” ternyata masuk dalam agenda wacana murid-murid Yesus ditengah jalan tatkala mereka bersama-sama dengan Yesus melaksanakan tugas pelayanan. Diskusi mereka ditengah jalan itu bisa saja sarat dengan kata-kata emosional, suara keras, saling berargumen. Pasti Yesus mengikuti percakapan itu, walaupun mungkin tidak terlalu jelas. Itulah sebabnya ketika mereka tiba dirumah Yesus memerlukan klarifikasi tentang konten percakapan para murid. “Apa yang kamu perbincangkan tadi ditengah jalan?” tanya Yesus (9:33).

 

Murid-murid tentu tidak menyangka bahwa Yesus tahu tentang diskusi mereka bahkan mereka agak “malu” ketika Yesus bertanya tentang topik diskusi mereka ditengah jalan. Sebab itu mereka diam tatkala Yesus menanyakan hal itu. Diskusi mereka yang mendatangkan pertengkaran amat berkaitan dengan posisi mereka sebagai murid Yesus (9:34).

 

Kondisi itu kemudian dimanfaatkan Yesus untuk memberi edukasi bagi para murid. Yesus mengingatkan pentingnya para murid untuk menjadi *pelayan*. Yesus juga mengambil anak kecil dan menempatkan ditengah mereka. Ia memeluk anak kecil itu dan menyatakan barangsiapa menyambut seorang anak dalam namaKu ia menyambut Aku.

 

Perbincangan para murid tentang topik “siapa yang terbesar” mengesankan kepada kita bahwa mindset para murid tentang pelayanan Yesus selalu tidak pas. Mereka berfikir bahwa Yesus akan membangun “kerajaa dunia” seperti kerajaan di zaman baheula sehingga mereka secara internal mengantisipasi : siapa akan dapat apa, berapa, dimana, posisi apa, dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Kita sayangkan mengapa dalam perjalanan pelayanan  itu para murid membuka discourse tentang “siapa yang tersebar” ? Mengapa mereka tidak fokus saja pada  pelayanan. Andai mau diskusi ya pilihlah topik yang lain bukan soal kursi, jabatan, periodisasi, ada banyak topik yang lain yang lebih relevan.

 

Dalam konteks pelayanan religius, diskusi tentang “siapa yang terbesar” bisa dikatakan sebagai sesuatu yang naif dan lebay yang kontra produktif bagi komunitas. Apalagi diskusi itu tidak berjalan dengan baik, tenang, intelektual, argumentatif tetapi disertai dengan pertengkaran yang memalukan corps para murid.

 

Dalam komunitas kristiani, dalam persekutuan gerejawi, yang besar; yang kecil, yang berpendidikan, yang tak berpendidikan, yang miskin dan kaya, yang afiliasi politik P atau Q, semua potensi yang ada mendapat pelayanan yang sama tanpa kecuali. Tak ada yang besar dan kecil; yang mayoritas dan minoritas dalam komunitas kita. Kita bisa belajar banyak dari Yesus dan para murid agar pelayanan kita makin bermakna dan berbobot.

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God blessed

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here