Pdt. Weinata Sairin: Mari Mengukir Kata Bermakna

0
294

 

 

“Quod Deus bene vertat. Semoga Tuhan mengarahkan (kita ke jalan yang baik)”.

 

Kita sebagai manusia diutus dan ditempatkan Tuhan di dalam dunia untuk mengukir karya terbaik bagi sesama disepanjang hidup ini. Manusia bukan dibuang ke tengah dunia, seperti yang pernah ada dalam cerita-cerita, manusia memang secara sengaja ditugaskan kedalam dunia oleh Tuhan. Manusia harus mengelola bumi ciptaan Allah dengan baik dan penuh tanggungjawab. Itulah sebabnya manusia adalah sosok yang bergerak, dinamik, yang memiliki daya inkuiri tinggi, yang selalu bertanya, yang ragu, skeptis, yang terus berupaya mencari jawab atas apa yang ada dalam dirinya dan di sekitarnya.

 

Jika manusia di zaman baheula hanya duduk manis, menunggu pergantian musim, menunggu kapan masa panen tiba dan kehilangan hasrat ber-inkuiri maka tidaklah mungkin akan ada pesawat telepon, ada aliran listrik, ada radio, ada mesin cetak yang meningkatkan kemahiran manusia menaklukkan bumi. Bagi umat yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak sekadar suka baca Heidegger atau Habermas, maka bukanlah sebuah _fiksi_ jika kitab suci suatu agama menyatakan dengan eksplisit bahwa manusia “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu akan kembali menjadi debu”.

 

Semua umat beragama dan berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa memahami kitab suci mereka sebagai benda yang _sakral-transendental_ dalam arti bahwa narasi-narasi yang ada di dalamnya adalah firman Tuhan yang menuntun kehidupan umat manusia agar mereka hidup dengan selamat, damai sejahtera, dunia akhirat. Narasi-narasi dalam kitab suci adalah narasi-narasi yang dipenuhi kebenaran ilahi, dan tidak pernah difikirkan sebagai sebuah fiksi, sesuatu yang fiktif, khayalan atau pemikiran rekaan sang manusia fana.

 

Narasi-narasi kitab suci adalah narasi-narasi eksklusif berkelas, tidak pernah bisa dibandingkan dengan karya sastra pemenang hadiah Nobel sekalipun, tidak pernah _setara_ dengan karya filosofis dari dari para filsuf generasi manapun yang pernah lahir dan menjadi referensi yang dibanggakan dunia. Ungkapan dalam kitab suci bahwa _manusia dengan berpeluh akan mencari makananmu_ adalah sesuatu yang riil dan faktual, bukan *fiksi* karena tanpa berpeluh manusia tidak akan memperoleh apa-apa. “Berpeluh” artinya dengan bekerja (keras) bukan dengan berdiam-diri. Bahwa ada beda realitas “berpeluh” antara seorang kakek tua yang berkeliling kompleks perumahan memikul dua keranjang buah-buahan, dengan mereka yang menawarkan promo buah kiwi di supermarket atau dengan para pedagang daring (on line) itu soal lain.

 

Agama-agama yang hadir di dunia modern di era digital memang berhadapan dengan banyak sekali _kompetitor_. Sejak dulu agama-agama berhadapan dengan realitas dunia yang acapkali meragukan, mempertanyakan dan kulminasinya adalah menolak dan _melawan agama_. Dulu ada yang bilang agama itu adalah _candu_ yang hanya meninabobokan orang, melupakan derita didepan mata dan mengajak orang _fly_ dan *trans* ke wilayah transenden, yang berada diatas. Agama dianggap madat, sabu, narkotik yang membuat orang lupa masalah yang melilitinya. Kondisi ini memang erat berkait dengan situasi sosial politik disuatu kurun waktu tertentu, pandangan filsafat yang kuat di suatu zaman, realitas kehidupan umat manusia dalam era tertentu dan juga dengan bagaimana agama memahami dirinya dalam konteks yang krusial seperti itu.

 

Para ahli agama dan tokoh agama dari waktu ke waktu memang harus dengan sigap memaknai secara baru pesan agama/pesan kitab suci dalam menjawab persoalan yang hadir ditengah peradaban modern. Dalam konteks kekristenan, dengan mengikuti pandangan guru besar teologi di STT Jakarta, yang sudah dipanggil Tuhan, dalam membaca dan menafsir Alkitab para teolog harus memperhatikan ‘Sitz im Leben’ (istilah Jerman=setting in life). Artinya bunyi ayat kitab suci itu harus dlihat apa konteks historisnya, ¬†sehingga tidak secara langsung dan simplisistis ayat itu diterapkan dalam kehidupan masa kini.

 

Kita sekarang hidup dalam sebuah ruangan besar yang amat transparan. Apa yang kita katakan, bahkan bisikkan diruangan besar ini tiba-tiba sudah beredar luas ke seluruh jagat raya dan langsung menimbulkan kegaduhan yang mengganggu kenyamanan hidup. Tahun Politik tidak seharusnya membuat suasana gaduh terjadi berulang-ulang dan kita semua sesama warga bangsa hidup dalam ketegangan. Tahun Politik seharusnya membuat kita warga bangsa makin dewasa, matang, _mature_ dalam memaknai politik dan memainkan peran konstruktif dalam hal politik praktis. Kita memang berbeda : suku, agama, ras, afiliasi politik, aliran keagamaan namun harus dicatat bahwa kita semua adalah warga dari *satu bangsa, bangsa besar yang kita banggakan yaitu Indonesia*. Keberbedaan tidak boleh menempatkan kita pada posisi bermusuhan.

 

Mari kita berikhtiar mengembangkan narasi-narasi positif; diksi yang apresiatif dan memotivasi; kosakata yang santun-elegan dalam ruang-ruang sejarah kita yang transparan ini. Mari menumbuhkan pikiran positif terhadap siapapun juga yang hadir dan hidup di negeri ini, mari tebarkan kedamaian dan perkuat tali-silaturahim diantara warga bangsa.

 

Sebagai umat bersgama dan berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa kita senantiasa memohon dalam doa-doa pribadi dan doa bersama/berjamaah kiranya Tuhan mengarahkan kita ke jalan yang baik. Kita harus makin berhikmat terutama dalam menggunakan kata, *words*, agar kata-kata kita memberi hidup bagi orang lain, menyiram damai bagi negeri tercinta, dan bukan yang sebaliknya.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here